THE HO[S]TEL 2

Mau tahu kisah nyata travellers apes saat salah pilih hotel atau hostel?

Seperti yang pernah gue tulis di postingan sebelumnya yaitu The Ho[s]tel, kali ini gue mau share pengalaman gue setelah baca buku sekuelnya yaitu The Ho[s]tel 2 karya Ariy dan beberapa penulis lainnya. Perbedaan buku pertama dengan kedua yaitu di buku kedua ini, Ariy mengadakan sayembara kepada siapa saja yang mau berbagi pengalaman mereka saat menginap di hotel maupun di hostel. Cerita yang dianggap seru dan bisa memberikan pelajaran positif bagi travellers yang membaca buku ini, maka akan dimasukkan ke dalam buku ini. Oia, buat yang belum baca buku The Ho[s]tel yang pertama, bisa langsung baca buku The Ho[s]tel 2 karena cerita-cerita yang ada di dalam bukunya berupa cerita pendek yang tidak bersambung.

Apa yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku ini?

Seperti yang udah pernah gue posting sebelumnya, yang utama kenapa gue memutuskan untuk lanjut membaca sekuel karya Ariy ini, karena menurut gue memilih penginapan saat travelling itu krusial banget. Singkatnya, karena di penginapan itu kita biasanya titip barang dan juga sebagai tempat kita beristirahat supaya besoknya kita bisa lanjut eksplor destinasi wisata dengan perasaan segar. Kedua, karena gue udah pernah baca buku yang pertama dan menurut gue bagus karena di akhir cerita selalu memberikan tips buat pembacanya biar keadaan zonk ngga terulang lagi buat travellers lainnya.

Apa yang gue rasakan setelah membaca buku ini?

Bicara soal judul buku, ternyata buku ini ngga cuma bicara soal hotel ataupun hostel seperti yang tertulis pada sampul, tapi juga menceritakan drama yang pernah dialami oleh travellers saat memilih untuk bermalam di sebuah areal stasiun Banyuwangi Baru ataupun di apartemen (Singapura). Kalau bermalam di area terbuka seperti kawasan stasiun udah pasti bakal dapet surprise ya, tapi kalau bermalam di apartemen di Singapura, bakal sebesar apa surprise-nya ya?..hehe.

Kalau melihat dari covernya yang horor banget, tadinya gue berpikir kalo isi buku ini bakalan didominasi oleh cerita horor yang dialami travellers. Kemudian pikiran gue mulai nyambung-nyambungin ngga jelas, kalo hotel atau hostel kan kamarnya ngga selalu setiap malam ada yang tempatin, pasti dong bakal banyak kejadian mistis yang bisa aja terjadi dan diceritain di buku ini. Eits, tapi ternyata gue salah, setelah gue baca semuanya, ternyata cerita mistisnya cuma ada 3 cerita. Buat travellers yang menjadi saksi hidup, menurut gue nyalinya oke juga sehingga mereka bisa berpikir jernih dan keluar dari situasi kayak gitu. Dan saat menceritakan kembali kisahnya di buku ini, sebagian besar penulis pakai gaya bahasa yang humoris, tapi tetep aja kalo dibayangin bikin merinding sih menurut gue..hehe.

Terus selebihnya cerita tentang apa?.. 17 cerita sisanya punya moral of the story yang bervariasi. Misalnya ada yang ngajarin tentang filosofi hidup lewat penginapan yang dia ngga sengaja pilih, manajemen dana darurat saat travelling jadi pas dapet penginapan zonk tetep bisa survive, etika pergaulan dengan orang asing (laki-laki dan perempuan) yang menjadi teman sekamar kita karena kita misalnya memilih mixed dormitory, etika kita terhadap penginapan itu sendiri, trik negosisasi saat kita harus mendadak menyewa penginapan, trik menyiasati makanan yang disediakan oleh penginapan tetapi tidak sesuai dengan selera kita, tips aman buat si solo traveller saat pilih penginapan, dan persiapan untuk hal-hal yang kelihatannya remeh temeh tapi kalau tidak diperhatikan bisa bahaya juga untuk harga diri..hehe. Ngga percaya, coba baca di cerita yang berjudul Ngenes! dan Demi WC..hehe. Oia, buat yang suka merenung / berfilosofi dikit, bisa coba baca Tua Tak Berdaya di Rooftop, sumpah ini cerita paling gloomy yang gue baca dari buku ini. Mungkin cerita ini bisa nambah perspektif kita.

Lanjut nih ya, buat travellers yang lebih suka jalan-jalan ke tempat wisata lokal (Indonesia), buku ini menyediakan 12 cerita yang dialami para wisatawan domestik dengan segala drama yang seru banget. Dan buat yang punya rencana atau penasaran sebrutal apa drama yang bisa menimpa travellers yang lagi apes saat memilih hostel ataupun hotel di negara-negara seperti Spanyol, Turki, Singapura, dan Filipina, buku ini menyediakan 8 buah cerita yang berbicara tentang pengalaman bermusafir negara-negara tersebut.

Pada akhirnya, menurut gue buku ini adalah camilan yang bergizi. Pembahasannya ngga berat, tapi sangat bermanfaat buat yang suka travelling. Apalagi buat yang mood liburannya ngga mau rusak karena holiday blues atau post-holiday blues..hehe. Atau buat pengusaha di bidang hospitality, mungkin bisa untuk strategi bisnis mendatang atau malah mau buat buku tandingan tentang wisatawan atau tamu-tamu hotelnya ataupun hostelnya yang pernah dateng dan punya kelakuan yang ajaib?..hehe. Kalo ada, nanti gue posting juga di blog gue 🙂

Gimana, tetep lanjut travelling atau pause dulu?

Daftar Pustaka:

Ariy, dkk. 2014. The Ho[s]tel 2. Yogyakarta:B First

12 thoughts on “THE HO[S]TEL 2

  1. Ulasannya membuat aku jadi penasaran sama bukunya. Kira-kira ‘surprise’ apa ya yang menanti para travelers ini.
    Sepertinya seru ya Kak, ada beragam pengalaman di dalamnya. Hmmm… Kudu coba baca nih.

  2. Kalau lihat covernya memamg horor banget ya fe, tapi menarik ceritanya.
    Penginapan tuh memang crusial banget, sempet ngalamin beberapa kali dapet hotel yang sukses bikin nggak nyenyak tidur.

    1. iya, ternyata covernya cuma buat gimmick marketing aja..hahaha..
      tapi overall ini buku bagus kok, meskipun ngga didominasi cerita horor..
      ngasih banyak tips seputar milih penginapan..

      Btw, thanks udah mampir, tin 🙂

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.