THE BREADWINNER

Penasaran sama film bertema feminisme? Yuk, kesini.

 

Masih dengan tema yang sama, kali ini gue mau cerita dikit soal salah satu film yang gue tonton di event Europe on Screen 2018 tepat pada tanggal 9 Mei 2018 jam 19:30. Film ini diputar di beberapa venues, tapi gue tonton ini di Institut Francais d’Indonesie (M.H. Thamrin). Judul film ini yaitu The Breadwinner, merupakan film yang berasal dari Irlandia, dan disutradarai oleh Nora Twomey. Film ini diangkat dari novel karya Deborah Ellis dengan judul yang sama. Ini film kartun satu-satunya di event ini yang gue tonton. Awalnya gue masih bimbang mau nonton apa ngga film ini, tapi akhirnya gue putusin buat nonton karena rasa penasaran gue..hehe. Dan ternyata setelah nonton, gue sama sekali ngga ngerasa nyesel udah nonton film ini. Impressive!

 

Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga di Afghanistan dengan latar belakang suasana politik yang dipimpin oleh rezim Taliban. Keluarga tersebut dikepalai oleh seorang kepala keluarga bernama Nurullah Alizai (Ali Badshah) yang memiliki seorang istri Fattema (Laara Sadiq) dan empat orang anak yaitu Soraya (Shaista Latif), Sulayman (Noorin Gulamgaus), Parvana (Saara Chaudry), dan Zaki (Patrick Mcgrath, Lily Erlinghauser, dan Finn Jackson Parle). Dari keempat anaknya, Parvana merupakan tokoh sentral di film ini. Konflik di dalam cerita ini mulai bergulir ketika Nurullah ditangkap oleh salah satu militan Taliban yaitu Idrees (Noorin Gulamgaus) dengan tuduhan palsu bahwa Nurullah mengajarkan feminisme kepada Parvana. Ketika Nurullah ditangkap, maka situasi keluarga ini menjadi sangat rapuh karena situasi politik tidak memperbolehkan wanita untuk bekerja di tempat umum.

 

Meskipun situasi telah menyudutkan keluarga tersebut, tapi Fattema pantang menyerah. Ditemani oleh Parvana dan berbekal sehelai foto Nurullah, mereka mendatangani penjara tempat Nurullah ditahan dengan tujuan untuk meminta pembebasan Nurullah. Sayangnya, saat baru sampai di depan kantor lembaga pemasyarakatan (Pul-e-Charkhi) tersebut Fattema malah mendapatkan perlakuan tidak manusiawi karena dianggap telah melanggar hukum negara yaitu keluar dari rumah tanpa ditemani oleh muhrim. Meskipun Fattema telah menjelaskan bahwa dia terpaksa keluar rumah tanpa muhrim karena suaminya sedang di penjara dengan tuduhan yang tidak berdasar dan dia tidak memiliki muhrim lainnya, Fattema tetap menerima pukulan dan peringatan keras oleh militan tersebut. Setelah kejadian tersebut, Fattema pun kemudian pulang ke rumah tanpa membawa hasil dan keadaan fisik yang lebam-lebam karena mendapat siksaan fisik. Meski begitu, Fattema adalah sosok yang tegar karena dia menghadapi hal ini dengan tenang di hadapan anak-anaknya.

 

Karena sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini, Parvana kemudian memotong pendek rambutnya dan mulai berpakaian seperti laki-laki agar dapat berjualan di pasar dan membeli keperluan untuk makan sehari-hari keluarganya. Keadaan ini awalnya dilakoni oleh Parvana dengan senang hati yaitu menjual baju dan aksesoris seperti yang biasa dilakukan sang ayah. Namun kemudian, kegiatan ini berangsur ditinggalkannya karena Parvana mencoba pekerjaan – pekerjaan lainnya agar dapat memperoleh uang lebih banyak ditemani oleh sahabatnya yaitu Shauzia (Soma Chaya) yang juga menyamar sebagai anak laki-laki. Uang ini rencananya akan digunakan oleh Parvana untuk menyuap petugas penjara sehingga sang ayah dapat dibebaskan. Namun sayangnya, usaha ini tidak berhasil karena sipir yang ditemuinya tidak menerima tawaran Parvana.

 

Keadaan semakin sulit ketika Parvana yang sedang menyamar menjadi anak laki-laki hampir diketahui identitasnya oleh Idrees, yang tidak lain adalah militan yang telah memfitnah ayah Parvana sehingga masuk penjara. Meskipun Parvana dapat meloloskan diri, namun dia pulang ke rumah dalam keadaan memprihatinkan  sehingga membuat Fattema sang ibu memiliki kekhawatiran yang mendalam terhadap Parvana. Rasa khawatirnya ini kemudian membuat Fattema mengirim surat kepada saudara jauhnya yaitu Muhammad Abdul untuk menjemputnya dan membiarkan keluarganya tinggal bersama dengan mereka untuk sementara waktu disebabkan situasi sulit yang menimpa mereka hingga minimal Zaki tumbuh besar dan dapat menjadi penopang keluarga.

 

Namun secercah harapan masih menghampir Parvana, karena tanpa sengaja dia memiliki teman seorang militan yang baik hati yaitu Razaq (Kawa Ada). Awal pertemanan mereka dimulai ketika Razaq yang buta huruf meminta Parvana untuk membacakan surat yang dimilikinya. Razaq yang baik hati selalu memberikan uang kepada Parvana setelah meminta pertolongan dari Parvana. Setelah kedekatan yang makin intens terbangun, suatu ketika Parvana mulai memberanikan diri meminta pertolongan Razaq untuk bertemu dan membebaskan ayahnya karena ayahnya dituduh tanpa bukti yang kuat. Razaq yang baik kemudian memberikan nama seorang petugas penjara yang sekiranya dapat menolongnya yaitu Roshan. Namun sayangnya, saat Parvana tiba di penjara tersebut keadaan penjara tengah kacau balau karena saat itu Afghanistan tengah mendapat serangan dari pihak luar. Di satu sisi, utusan Muhammad Abdul datang menjemput Fattema, dan anak-anaknya di waktu yang lebih cepat dari perkiraan Fattema. Awalnya Fattema bersikeras tidak mau ikut karena ingin menunggu Parvana yang belum pulang dari rumah. Namun akhirnya karena didesak, Fattema dan anaknya pun ikut juga bersama utusan Muhammad Abdul tersebut. Di tengah perjalanan, mobil yang dikendarai tersebut mengalami kendala sehingga memaksa Fattema, anak-anaknya, dan utusan Muhammad Abdul untuk beristirahat sejenak di tengah gurun pasir. Di tengah situasi tersebut terjadi percekcokan antara Fattema dan utusan Muhammad Abdul karena Fattema kembali menolak melanjutkan perjalanan tanpa Parvana. Utusan yang berang tersebut kemudian mengeluarkan pisau untuk mengancam Fattema. Bagaimana akhir dari perjuangan tiga wanita di keluarga ini yaitu Parvana, Fattema dan Soraya untuk mendapatkan keadilan mereka? Dan apakah mereka dapat bersatu kembali? Nah, gue lagi – lagi menyarankan buat nonton sendiri film ini yah, karena saat nonton akan berasa feel-nya gimana suasana real dan ketegangan konfilk yang dibangun di dalam film ini..hehe.

 

Setelah gue nonton film ini, gue berasa film ini oke buat ditonton karena selain visualisasi dari keadaan disana yang dapet banget, gue pribadi juga merasa meskipun film ini dibuat oleh orang Barat tapi film ini menggambarkan “wajah” Islam secara proporsional. Meskipun film ini mengangkat ketimpangan gender yang dilakukan rezim Taliban namun tetap terdapat beberapa tokoh Muslim di film ini yang memiliki karakter moderat dan toleran seperti Nurullah dan Razaq. Nurullah yang mengajarkan pentingnya pendidikan untuk anak perempuan (dimana pada saat itu Taliban melarang anak perempuan untuk bersekolah) dan Razaq yang menyayangkan sikap Idrees yang bersikeras ingin menghukum Nurullah saat Nurullah yang pincang tersebut membawa Parvana untuk menemaninya berjualan di pasar. Jadi setelah nonton film ini, gue berasa film ini berfokus untuk mengkritik rezim Taliban itu sendiri. Dan entah kenapa dua film yang ber-setting negara Islam, yang gue tonton di event ini semuanya mengangkat isu keadilan gender sebagai isu yang paling kuat menguar. Jadi penasaran, di tahun depan nanti isu apalagi yang paling banyak diangkat di film yang memakai setting negara Islam..hehe.

 

Akhir kata, makasih banget buat event ini, semoga kedepannya makin ada banyak festival film mancanegara yang diadain di Indonesia dengan film-film yang oke, dan tentunya tetep gratis..hehe.

 

Semoga jadi tambah kepo ya..hehe.

 

IG : estalinafebiola

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.