NATASHA: MENGUNGKAPKAN PERDAGANGAN SEKS DUNIA

https://www.estalinafebiola.com/natasha/

Penasaran sama fenomena yang telah menghilangkan beberapa generasi wanita-wanita cantik di Eropa Tengah dan Eropa Timur?

 

Beberapa minggu yang lalu, gue nemuin sebuah buku dengan judul yang menurut gue provokatif karya seorang jurnalis Kanada bernama Victor Malarek. Yup, ngga butuh lama buat gue untuk akhirnya memutuskan untuk membaca buku ini dan sharing di blog. Buku ini mungkin ditulis udah cukup lama oleh penulisnya, jadi mungkin aja udah ada yang pernah baca buku ini ya..hehe.

 

Apa yang membuat gue memutuskan untuk membaca buku ini?

 

Hal pertama yang membuat gue melirik buku ini adalah karena judulnya yang provokatif yaitu Natasha: Mengungkapkan Perdagangan Seks Dunia. Kemudian gue iseng googling siapa Victor Malarek sang penulis. Gue dapet info ternyata dia adalah jurnalis senior yang berkebangsaan Kanada dan buku ini merupakan bagian dari laporan investigatifnya saat menjalani profesinya tersebut.

 

Apa yang gue rasakan setelah membaca buku ini?

 

Sebelum gue cerita apa yang gue rasain setelah membaca buku ini, pertama – tama gue mau cerita tentang alasan utama si penulis membahas tema ini. Alasannya adalah karena hal ini merupakan bencana buatan manusia yang sanggup menghilangkan banyak nyawa manusia. Dimana bencana ini karena sejatinya merupakan buatan manusia, seharusnya bisa dicegah jika banyak pihak mau berkoordinasi dengan baik.

 

Oke lanjut, gue mau cerita apa yang gue rasain setelah membaca buku ini. Layaknya sebuah film, buku ini dibuka dengan opening yang menggugah rasa kemanusiaan. Di awal buku ini diceritakan bagaimana seorang gadis belia bernama Marika yang masih berusia 19 tahun tersebut pergi dari negara asalnya yaitu Ukraina menuju Israel agar dapat memperbaiki ekonomi keluarganya. Marika dan korban – korban lainnya tidak melewati rute normal yaitu dari Ukraina langsung menuju Israel, tapi melalui rute aneh yang berputar – putar. Hal ini terjadi karena sejatinya ini bukanlah perjalanan biasa tapi sebuah misi penyelundupan atau perbudakan manusia. Rute perjalanan Marika tepatnya yaitu dari Ukraina menuju ke Austria, kemudian menuju ke Siprus, lalu menuju ke Mesir. Dari Mesir dilanjutkan dengan jalur darat menuju Israel. Dalam perjalanan darat dari Mesir menuju Israel inilah digambarkan bagaimana perasaan Marika yang penuh ketakutan dan kelelahan karena melintas secara ilegal dari Mesir menuju Israel bersama para penyelundupnya. Marika dan korban lainnya harus berjalan kaki melintas gurun dan bermain kucing – kucingan dengan para penjaga perbatasan. Setiba di Israel, Marika dan korban lainnya baru mengetahui jika mereka ternyata dijual dan akan dipekerjakan untuk tempat prostitusi. Dari sinilah selanjutnya hari – hari penuh penderitaan bagi Marika dan korban – korban lainnya berlangsung. Hari demi hari berlalu, Marika kemudian mendapati hal aneh yaitu semua pelanggan yang datang selalu memanggilnya dengan nama Natasha.

 

Opening yang menurut gue menggugah tersebut, kemudian membuat gue penasaran ingin membaca sampai halaman terakhir dari buku ini. Apalagi di opening tersebut disebut – sebut nama Natasha, yakni nama yang juga menjadi judul buku ini. Setelah membaca buku ini sampai habis, gue merasa buku ini memakai alur maju mundur, dipenuhi dengan banyak fakta hasil investigasi sang penulis ataupun studi kepustakaan yang mirip laporan ilmiah, dan ada bagian di dalam buku ini yang mirip film action. Bagian yang mirip film action yaitu saat sang penulis lewat tulisannya membawa pembaca ikut terlibat masuk ke dalam petualangannya dalam menyertai para polisi PBB dalam menggerebek rumah – rumah bordil, secara pribadi memata – matai bar yang diduga tempat penyekapan, wawancara dengan para korban trafficking, wawancara dengan pemilik bordil, ataupun wawancaranya dengan anggota jaringan mafia Rusia. Pada saat buku ini membeberkan banyak fakta layaknya laporan ilmiah, entah kenapa terkadang gue merasa bosan membacanya karena terasa kering. Beruntung pada bagian – bagian tertentu seperti saat penggerebekan bersama polisi PBB, saat penulis secara pribadi memata – matai bar, saat wawancara dengan para korban trafficking, wawancara dengan pemilik bordil, atau saat bertemu mafia terasa seru mirip seperti film action. Namun begitu, secara keseluruhan buku ini menurut gue sangat informatif dan bisa memberikan perspektif baru.

 

Selanjutnya buku ini menjelaskan awal mula merebaknya trafficking gelombang keempat yang menarget para wanita dari Eropa Tengah dan Eropa Timur. Awal merebaknya yaitu setelah runtuhnya negara Uni Soviet, maka menyisakan negara – negara kecil yang miskin (tidak ada lapangan pekerjaan) dan belum mapan secara politik (banyak pejabat yang korup). Hal ini mendorong banyaknya warga dari negara – negara tersebut yang berniat mencari pekerjaan di luar negeri. Fenomena ini dimanfaatkan oleh para mafia untuk mendapatkan korban agar dapat dijual dan dipekerjakan di dalam industri seks. Wanita Eropa Tengah dan Timur yang terkenal cantik namun terhimpit secara ekonomi tersebut kemudian dijanjikan akan mendapatkan pekerjaan yang normal di luar negeri. Sesungguhnya ini hanyalah bohong belaka, karena sesampainya mereka di negara tujuan akan dijerumuskan ke dalam industri seks secara paksa. Para mafia ataupun para pembeli mereka yang kebanyakan adalah pemilik bar atau rumah bordil tidak segan untuk mengancam akan menyebarkan video seks mereka, menyiksa, atau membunuh jika mereka tidak patuh atau berusaha kabur. Memang dipaparkan oleh penulis, ada sebagian kecil yang tahu akan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial, tapi ini pun tidak luput dari penipuan. Biasanya mereka dijanjikan uang bayaran yang mahal, libur dua kali dalam seminggu, dan bebas menolak pelanggan yang tidak mereka sukai. Namun pada kenyataannya semuanya berbeda, mereka dibayar kecil, bekerja tanpa libur, dan bahkan tetap bekerja meskipun sakit ataupun sedang menstruasi. Golongan yang tahu ini hanyalah sebagian kecil saja karena hampir sebagian besar sama sekali tidak tahu akan dipekerjakan di dalam industri seks sehingga banyak yang disiksa dan dibunuh.

 

Modus yang digunakan para mafia untuk menjaring korban adalah dengan memiliki antek – antek dari penduduk setempat sehingga dapat melancarkan beragam cara untuk menjaring korban. Beragam cara tersebut yaitu misalnya berkedok menjadi agen pencari pekerjaan yang membuka stand di kampus yang menawarkan pekerjaan di luar negeri dengan janji syurga (janji penghasilan besar, semua biaya dokumen perjalanan ditanggung, biaya tiket perjalanan ditanggung, dan di negara tujuan biaya tempat tinggal ditanggung), antek – antek mafia merekrut kenalannya sendiri untuk ditipu, korban trafficking menjadi antek – antek mafia karena dijanjikan akan dilepas jika bisa memperoleh pengganti dirinya, antek – antek mafia berpura – pura mencari jodoh lewat biro jodoh dimana niatnya yaitu istri yang diperoleh akan dijual, antek – antek mafia menculik dengan paksa para wanita dari jalanan, antek – antek mafia masuk ke dalam panti asuhan berkedok perekrut dari perusahaan legal, ataupun mafia bekerjasama dengan direktur panti asuhan untuk menjual anak panti asuhan yang sudah saatnya keluar dari panti asuhan disebabkan umurnya yang sudah tidak kanak – kanak lagi.

 

Menurut investigasi penulis, fenomena trafficking ini kemudian ditunjang dengan beragam faktor pendukung yaitu adanya internet, adanya permintaan dari negara – negara maju untuk mengisi pekerjaan yang kosong di bar plus – plus dikarenakan para wanita lokal tidak mau mengisi pekerjaan di sektor tersebut disebabkan pertumbuhan ekonomi yang positif sehingga membuka lapangan pekerjaan yang lebar bagi wanita lokal di sektor – sektor yang lain, beberapa negara di Eropa seperti Jerman dan Belanda yang melegalkan prostitusi sehingga sulit untuk membedakan mana pekerja seks komersial yang bekerja secara sukarela ataupun terpaksa (korban trafficking), perilaku rasisme, dan korupsi yang terjadi di dalam badan aparat penegak hukum yang menyulitkan pemberantasan fenomena ini.

 

Internet bisa dikatakan membantu suburnya perkembangan bisnis ini karena penulis menemukan bahwa pemilik rumah bordil di Israel bercerita kepadanya dengan perasaan bangga bahwa telah memiliki website untuk mempromosikan bisnisnya tersebut sehingga berhasil mendatangkan konsumen dari berbagai belahan dunia. Penelusuran lebih jauh telah memberikan informasi lain kepada penulis, yakni terdapat beberapa perusahan agen perjalanan di internet yang menawarkan paket wisata dengan fasilitas tambahan yaitu prostitusi. Tentunya penawaran paket wisata plus – plus ini dibungkus dengan kata – kata yang halus, yaitu misalnya paket wisata ditemani wanita dengan pengalaman seperti dengan kekasih sendiri ataupun dengan kalimat lainnya yang menjurus ke hal tersebut. Penulis juga menemukan adanya forum obrolan di internet yang membahas tentang wisata seks sehingga memudahkan para turis hidung belang untuk saling bertukar informasi mengenai hal ini.

 

Berbicara mengenai forum obrolan tentang wisata seks ini, penulis menemukan hal yang menarik agar masyarakat umum tahu. Para pengguna forum ini kemungkinan besar tahu bahwa wanita – wanita yang mereka bicarakan adalah korban trafficking. Seorang pria dengan username Arab Man Observing bercerita bahwa dia pernah menggunakan jasa prostitusi di negara yang ia kunjungi, awalnya tidak ada masalah sampai ketika dia menemukan adanya bekas – bekas luka dan memar di tubuh wanita tersebut. Rasa penasaran membuatnya bertanya kepada si wanita, sehingga akhirnya si wanita bercerita bahwa dirinya adalah korban trafficking. Bekas – bekas luka dan memar tersebut disebabkan siksaan yang diperoleh dari para pelaku yang telah menjebaknya tersebut. Selesai mendengar hal ini, sang pria dengan username Arab Man Observing tersebut menuturkan bahwa dirinya jadi merasa kasihan. Akan tetapi cerita si Arab Man Observing justru mendapat tanggapan negatif dari username lainnya. Akun dengan username lainnya misalnya mengatakan bahwa mereka tidak menyukai cerita cengeng seperti di atas bahkan menyuruh Arab Man Observing untuk bekerja kepada .gov (pemerintah) saja.

 

Tingginya permintaan negara – negara maju akan pekerja untuk mengisi lowongan di bar plus – plus dan legalisasi beberapa negara akan prostitusi, dianggap penulis juga menyuburkan fenomena ini karena beberapa pemilik bar plus – plus tersebut memiliki koneksi dengan orang – orang yang dapat menyediakan para wanita tersebut. Dimana biasanya kenalannya tersebut adalah mafia trafficking yang mendatangkan para wanita dengan cara menipu mereka.

 

Perilaku rasisme yang diidap sejumlah pelaku trafficking kerap kali menyuburkan fenomena ini. Hasil wawancara penulis dengan pemilik rumah bordil di Israel mengungkap bahwa tingginya minat para pria lokal terhadap bisnis ini disebabkan adanya beberapa kasus dimana para wanita lokal menolak para pria lokal sehingga prostitusi menjadi jalan keluar untuk mengurangi tingkat pemerkosaan terhadap wanita lokal. Dianggap wajar jika wanita asing ‘dikorbankan’ karena dianggap tidak sesuci ras mereka. Namun beruntungnya, penulis masih menjumpai lembaga bantuan hukum di negara tersebut yang dipimpin oleh warga lokal Israel yang tetap giat memperjuangkan keadilan terkait hal ini dan sering membantu penulis untuk memberikan informasi – informasi penting.

 

Masalah aparat penegak hukum yang korup diungkap oleh penulis merupakan salah satu faktor terberat dalam memberantas fenomena ini. Penulis menemukan fakta ini secara langsung ketika ikut serta dengan polisi PBB terkait penggerebakan bar plus – plus di daerah konflik yaitu Kosovo. Wawancara yang dia lakukan terhadap korban mengungkapkan bahwa beberapa oknum polisi PBB pernah menjadi pelanggan bar tersebut. Bahkan tidak hanya menjadi pelanggan, ada beberapa oknum polisi PBB yang meminta jasa gratis dengan ancaman akan menutup bar jika apa yang dia inginkan tidak diberikan. Penulis bahkan menuturkan pernah mengalami kondisi dimana penggerebekan yang akan mereka lakukan gagal karena adanya oknum di dalam aparat itu sendiri yang membocorkan penggerebekan. Adapun penggerebekan yang sukses, kasusnya tidak dilanjutkan karena disinyalir menyangkut aparat hukum lainnya yang lebih tinggi jabatannya. Penulis juga pernah mendapatkan informasi dari aparat yang menjadi orang dalam bahwa beberapa oknum polisi PBB bahkan membeli para wanita korban trafficking tersebut dari bar plus plus kemudian disekap di tempat mereka tinggal untuk kepentingan pribadi mereka. Seringkali dijumpai beberapa kasus yakni aparat yang menjadi whistle blower malah dipecat dengan alasan yang tidak masuk akal.

 

Masalah aparat penegak hukum yang korup juga ditemui oleh penulis menimpa negara yang menjadi sumber korban trafficking maupun negara yang menjadi tempat tujuan trafficking. Hasil wawancaranya baik dengan korban maupun dengan lembaga yang menyorot permasalahan trafficking memberikan simpulan tersebut. Di negara yang menjadi sumber korban trafficking, beberapa kasus ditemukan bahwa yang menginformasikan dan mempersuasi korban untuk mendaftar kedalam lowongan pekerjaan gadungan tersebut adalah oknum polisi. Belum lagi ditambah pejabat negara yang terkesan tak acuh terhadap masalah yang menimpa warga negaranya sehingga pernah ditemukan kasus korban yang berani bersaksi melawan mafia trafficking ketika pulang ke negara asalnya tidak lama kemudian ditemukan tewas terbunuh atau hilang (disinyalir ditangkap kembali oleh mafia). Lalu di negara yang menjadi tujuan korban trafficking, kasus seperti polisi menjadi pelanggan dan membocorkan rencana penggerebekan pun juga ditemui.

 

Melihat hasil penelusuran Victor Malarek sang penulis, terlihat jelas ya kenapa penulis mengungkapkan bahwa ini adalah bencana buatan manusia yang seharusnya bisa dicegah. Bisa dibayangkan bagaimana menderitanya para korban trafficking tersebut. Dimulai dari himpitan ekonomi yang menimpa mereka, penyiksaan fisik dan psikologis dari pelaku trafficking, terkadang menjadi korban dari oknum gangster yang memiliki dendam terhadap mucikari mereka, penghinaan oleh masyarakat umum ketika melihat mereka berdiri di tepi jalan menunggu pelanggan padahal si penghina tidak tahu kenyataan yang sebenarnya terjadi, hak – hak mereka yang seringkali diabaikan saat persidangan (tidak diberitahu bahwa mereka bisa bersaksi untuk memberatkan pelaku, hakim yang tidak mempercayai mereka, ataupun aparat hukum yang disuap oleh mafia), resiko menderita penyakit menular seksual, resiko kehamilan yang tidak diinginkan, dan resiko kembali ditangkap oleh mafia atau mengalami pembunuhan saat sampai di negara asal. Keberadaan lembaga – lembaga nonpemerintahan yang perduli tentang hal ini bisa menjadi oase. Beberapa korban yang tidak bisa dipulangkan karena misalnya negara asal tidak memiliki biaya untuk memulangkan, bisa ditampung oleh lembaga tersebut dan dipulihkan fisik dan psikologisnya.

 

Di bagian akhir buku ini, penulis menuangkan pandangannya tentang solusi dari masalah yang kerap kali dia temui di lapangan. Misalnya, dia banyak menjumpai kasus dimana terdapat negara yang tidak bisa memproses kasus ini dengan alasan belum memiliki undang – undang tentang trafficking. Kemudian penulis juga menghimbau agar masyarakat umum mau menyumbangkan dana untuk membantu lembaga – lembaga nonpemerintahan yang giat memperjuangkan keadilan untuk masalah ini. Dimana dana tersebut agar dapat digunakan untuk biaya pemulihan fisik dan psikologis korban. Selain dua hal tersebut, ada beragam pandangan lainnya yang diungkapkan penulis di dalam buku ini.

 

Sebagai penutup, buat yang penasaran kenapa buku ini berjudul Natasha, kenapa semua pemilik dari bar plus – plus ataupun rumah bordil selalu memperkenalkan para korban kepada pelanggan dengan nama Natasha, dan jawaban atas pertanyaan di benak para korban mengenai para tamu yang selalu memanggil mereka dengan nama Natasha tersebut bisa dilihat di bagian penutup buku ini. Jadi biar tulisan ini kesannya ngga spoiler amat, silahkan bisa dicari tahu sendiri ya di buku ini..hehe. Pada intinya buku ini bagus buat dibaca, karena ada beragam informasi, data, dan solusi yang bisa menambah wawasan terkait perbudakan di zaman modern ini. Dimana tentu aja, sharing gue ini cuma ringkasan jadi buat yang masih lapar sama informasi dan data bisa langsung dibaca ya bukunya 🙂

 

Satu lagi bentuk dari homo homini lupus yaitu trafficking.

51 thoughts on “NATASHA: MENGUNGKAPKAN PERDAGANGAN SEKS DUNIA

  1. aku pernah baca di sebuah buku, bahwa pecahnya Uni Soviet memang jadi permasalahan pelik yang kemudian dihadapi oleh para negara pecahan ini. Mulai dari masalah ekonomi, hukum, politik, dll. salah satunya trafficking.
    apalagi perempuan dari negara-negara pecahan tersebut sangat cantik dan menarik.
    aku baru tahu jika legalisasi prostitusi di beberapa negara menambah permasalahan trafficking.

    1. Iya, ini sejauh pengalaman si jurnalis setelah investigasi mendalam karena dia menemukan beberapa pemilik bordil di negara-negara yang melegalkan prostitusi punya koneksi ke mafia trafficking..

      Thanks udah mampir..

  2. Baca review dari ka Febi selalu bikin penasaran nih di akhir-akhir, hahaa sukses bikin pengen baca bukunya. Tanggung jawab nih kaa buku Natasha nya bisa dicari dimana nii 😀

  3. Somehow benar2 menyedihkan ya mengetahui ada ‘dunia lain’ dibalik normalnya dunia kita, masih banyak diluar sana orang2 yang kehilangan hak dan kebebasan atas dirinya sendiri, dan jurnalis2 seperti ini yang berjasa membukakan mata kita, semoga mengetahui fakta ini bisa membuat kita melek dan membantu hak2 mereka. Btw, ka Febi selalu sukses nih bikin penasaran, haha tanggung jawab kaaa bukunya bisa aku cari dimana nii.

    1. Iya, bener nes.. Padahal bisa aja kan si jurnalis pas lagi cari berita terus ketemu fenomena ini dia ikut-ikutan jajan, tapi dia pas ketemu fenomena ini, malah dedikasiin dirinya buat angkat fenomena ini..
      Iya, kalo mau bukunya, gw kirim segera bisa kok..wkwk..

  4. Human trafficking dan insdustri prostitusi akan terus ada, selama permintaan masih tinggi, penawaran akan mengikuti. Ditambah ada oknum² yang “mendukung” perdagangan manusia ini.

    Nice review anyway..

  5. Human trafficking dan bisnis prostitusi akan terus berjalan, selama pasar masih membutuhkan. Ditambah banyak oknum yang “membantu” perdagangan manusia ini.

    Nice review

  6. Hmmm buku yang menarik, walaupun bukan genre bacaan aku tapi baca ulasan ini jadi tertarik baca. Apalagi endingnya dibuat penasaran gitu huhu

    Jadi beli di manakah buku ini?

  7. Sampe kapan ya hal keji kayak gitu dilindungi sama petinggi2 yang gak punya rasa peri kemanusiaan 🙁 ngebacanya sedih dan ngeri2 gitu kak

    Aku salut sama Victor Malarek dia berani membuat cerita provokatif kayak gini yang menyadarkan semua pembacanya bahwa modus2 penipuan masih banyak dilakukan di negara luar demi kelancaran perilaku keji mereka. Coba ajah ada penegak2 hukum yang jujur, baik dan berani bertaruh nyawanya untuk melindungi orang2 yang bersaksi atas keberanian mereka mengungkap kebeneran, mungkin angka seks di dunia ini akan sedikit berkurang

    Makasih kak review bukunya keren

    1. Iya, retno selama pemerintahannya masih korup akan sulit banget berantas ini..
      Bener kata penulisnya, diharapkan terangkatnya fenomena ini di media semakin bikin public aware dan diharapkan ikut menyumbang buat organisasi yg concern sm hal ini karena sangat berguna buat nolongin para korban.

      Thanks udah mampir..

  8. Di negara manapun ada hal semacam ini ya, perdagangan manusia terjadi sama perempuan yang tak pendidikan dan miskin, biasa hal tersebut terjadi..

  9. Human Trafficking tidak akan ada kalau tdk ada penggunanya. Celakanya pengguna nya ya berasal dari negara maju yg katanya melek HAM sekaligus pelanggar HAM juga..miris sekali ya..

    1. Haha.. iya, bener banget..
      Malah ada 1 bab yang bahas soal ini khusus..
      Penulisnya kasih contoh Amerika buat case ini..
      Amerika ancam kasih embargo ekonomi buat negara yang ngga perduli ttg masalah trafficking, tapi di lain pihak banyak warga Amerika yang pelesir ke seluruh dunia buat pakai jasa ini atau pas jadi tentara kdg kalo istirahat suka main ke bar yang mereka tahu tempat korban tsb..

      Btw, thanks udah mampir..

  10. dari sejak ribuan tahun yg lalu, bisnis yang paling banyak peminatnya dan selalu bertahan adalah bisnis prostitusi. Susah si emang, demand terlalu tinggi, supply kurang, makanya pada dijebak jd prostitute. Petugas terkait jg kadang tidak kooperatif, kalo gini rasanya sedih dan kesal krn tidak adil bagi mereka.

  11. Saya juga lagi suka nih buku yg genre nya investigasi. Seru dan banyak fakta yg bisa memperkaya wawasan kita juga.

    Jadi penasaran sama NATASHA: MENGUNGKAPKAN PERDAGANGAN SEKS DUNIA

  12. Kakkkk…. sukakkk banget dengan gaya penulisan prolognya. Langsung ‘nendang’ ke otak. Semenarik contain buku yang dibahas. Natasha ‘mewakili’ sebagian wajah kejam kehidupan yang nyata di depan mata. Tau ndak kak, kalau baca buku seperti ini saya ‘malu’ ; teringat saat kuliah saya mendapat nilai tertinggi untuk pelajaran terkait human right. Namun saat ini saya tidak membantu ‘perjuangan’ mereka lagi….

  13. Waahh review yang sangat menarik kak, memang ya wanita selalu jadi korban, padahal harusnya wanita dijaga baik-baik. Miris banget baca ini, semoga dengan semakin majunya jaman, makin besar perhatian pemerintah terhadap hal ini.

  14. Baca ulasan buku Natasha ini kayak nonton film dan keinget satu film duh tapi lupa judulnya.. Intinya tentang usaha human trafficking dengan segala kong kalikong di sisi birokrasinya. Menarik banget Kak ini tulisannya. Keren!

  15. Menarik Reviewnya kak tentang buku yang mengungkap perdagangan sek Dunia. Bisnis Prostitusi akan terus ada karena tingginya permintaan dan karena faktor ekonomi.

  16. Susah yang membasmi bisnis prostitusi karena masih banyak “peminatnya”.
    Bahayanya lagi bisnis ini merembet ke trafficking.
    Jaringannya terlalu kuat sudah jadi semacam mafia.

  17. Wahhh menarik banget ceritanya kak. Trafficking emang seringnya menjadikan perempuan sebagai korban.

    Kalau boleh tau bukunya keluaran tahun berapa kak? Aku jadi penasaran pengen baca

  18. Aku penasaran kenapa rumah bordil selalu memperkenalkan para korban kepada pelanggan dengan nama Natasha, juga para tamu yang selalu memanggil mereka dengan nama Natasha…
    Hmm..
    Review dan buku yang keren.
    Ku bayangin bacanya seperti tayangan History, atau cerita kriminalnya Intisari.
    Dan endingnya bikin jleb: satu lagi bentuk dari homo homini lupus yaitu trafficking!
    Duh!

  19. Masalah berkepanjangan dari ekonomi ini ternyata juga terjadi di negara pecahan Uni soviet ya. Saya jadi penasaran ingin baca buku ini. Terima kasih reviewnya, Kak.

    Miris membaca bagaimana mereka diperlakukan dengan tidak manusiawi, tapi di sisi lain saya juga belum membantu apapun. Jadi teringat. Teman saya pernah terjerat dengan prostitusi karena dia enggak punya pilihan lain untuk bertahan hidup.

  20. Aku baca rivew mu kak dengan perasaan campur aduk, sedih, marah dan penuh tanda tanya. Ngebayangin para wanita itu di siksa semua, ngebayangin mereka pasti sdh habis air mata nya. Apalagi mereka gak tau kalo mereka awal nya akan di “jual” , buku ini ada di gramed? Mau baca juga lebih detail aku..

    1. Iya bener, gw juga ngga nyangka..
      Apalagi banyak aparat yg ternyata ikut bermain..

      Tadi gw liat di toko buku online masih ada..
      Kalo ngga salah di bukukita.com..

      Thanks udah mampir..

  21. Wowww kak baca ulasan buku ini berasa miris banget. Wanita yang harusnya dapat perlindungan malah dijebak untuk human traficking. Gemes banget bacanya, jadi melek ternyata human traficking di luar sana masih stay on dan di back up oleh polisi.
    Kereeen kak ulasannya.

  22. Aku suka banget baca review ini, informatif banget. Kak bukunya masih banyak dipasaran gak sik? Kalau enggak boleh mungkin pjnjem punya kaka? haha

    Ingin banget baca, buku bagus ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!