MERU

Pendakian puncak di India ini tingkat kesulitannya bisa jadi rival beratnya pendakian Everest loh, kok bisa?


Karena pertama kali tertarik gabung di Komunitas Backpacker Jakarta adalah penasaran mau cobain naik gunung –dan dengan harga yang bersahabat..hehe-, jadi kali ini gue mau sharing tentang film dokumenter karya Jimmy Chin dan Elizabeth Chai Vasarhelyi (Amerika) yang menurut gue bagus karena memberikan motivasi positif dan berhubungan dengan mountaineering yang bisa dijadikan pilihan buat mengisi waktu luang. Film dokumenter ini sebenarnya sudah lama tayangnya yaitu di tahun 2015, jadi mungkin sudah ada yang pernah nonton. Jadi kali ini sharing khusus buat yang kebetulan belum nonton. Dan buat yang sudah nonton, makasih masih mau baca posting-an ini..hehe..

Dari judulnya udah keliatan kalo film ini berkisah tentang misi mencapai Puncak Meru yang berada di India. Tim ini terdiri dari Conrad Anker, Jimmy Chin, dan Renan Ozturk. Conrad sebagai pemimpin tim memilih Jimmy karena mereka sudah sejak lama menjadi partner dalam berpetualang secara profesional. Sedangkan alasan Conrad memilih Renan adalah karena kagum kepada Renan setelah melihat video panjat tebing yang dilakukan Renan di North Six Shooter Peak, Amerika. Jimmy sebenarnya hanya ingin melakukan pendakian profesional dengan orang yang dikenalnya saja, tapi karena dia percaya kepada Conrad, pada akhirnya dia memilih untuk menerima pilihan Conrad atas Renan. Setelah menonton di beberapa menit pertama film ini, penonton akan paham kalau sebenarnya ini adalah misi kedua dari Conrad untuk Puncak Meru karena pada tahun 2003, Conrad pernah berusaha untuk meraih Puncak Meru tapi gagal. Kemudian pada tahun 2008, bersama dengan timnya yang baru itulah Conrad kembali berusaha untuk touch down di Puncak Meru melalui Rute Sirip Hiu (Shark Fin Route).

Di film dokumenter ini, diinformasikan bahwa Puncak Meru menurut Jon Krakauer (penulis Into Thin Air) adalah sebuah antitetis dari Puncak Everest. Hal ini disebabkan beberapa faktor yakni jika di Puncak Everest pendaki masih bisa meminta bantuan Sherpa untuk membawa barang-barang mereka, sedangkan untuk Puncak Meru hal ini tidak berlaku. Sherpa sendiri sebetulnya adalah nama salah satu suku di Nepal, dan karena keahlian mereka dalam memahami medan pendakian, maka mereka sering diminta bantuan untuk menjadi porter oleh pendaki-pendaki yang berkeinginan mencapai Puncak Everest. Kenapa tidak bisa membawa Sherpa? Tidak bisa membawa Sherpa karena belum tentu Sherpa yang ikut memiliki keahlian melakukan panjat tebing. Kemudian karakteristik tebing terdekat menuju Puncak Meru itu sendiri yaitu mulai 450 meter menuju puncak, tebing tercipta dari bongkahan granit yang indah. Hal ini membuat tebing memiliki medan yang hampir tidak berkontur dan mudah rapuh sehingga menimbulkan beragam kesulitan yang kompleks. Kesulitan tersebut yaitu dengan 450 meter (vertikal) yang harus dilalui dengan kontur yang halus dan mudah rapuh seperti itu, membuat sulit memasang phiton (paku tebing). Jika tidak hati-hati atau kurang beruntung, maka bongkahan tebing yang sedang dipasang phiton bisa runtuh dan menimpa anggota tim yang berada di bawah. Kesulitan yang kompleks ini, membuat kegiatan panjat tebing di area tersebut pada umumnya diprediksi memakan waktu 1 hari untuk bisa naik setinggi 60 meter ke atas. Dengan ketinggian 450 meter, maka diprediksi untuk sampai ke puncak memakan waktu 7-8 hari. Itu pun dengan prediksi normal ya, belum dihitung misalnya dengan keadaan yang menghambat seperti fisik pendaki yang kelelahan, sakit, badai salju, dan lain-lainnya. Dengan waktu yang sangat lama tersebut, pendaki tentunya harus membawa peralatan dan logistik yang memadai. Peralatan dan logistik yang memadai tersebut diprediksi bisa mencapai 100 kilogram. Bayangkan, bagaimana sulitnya pendakian dengan cuaca yang ekstrem dan medan yang sulit serta ditambah harus membawa logistik seberat itu.

Tapi Conrad dan timnya tidak pantang menyerah, mereka tetap bertekad untuk menjadi tim pertama yang bisa touch down di Puncak Meru. Pada hari ketujuh belas-lah mereka bisa mencapai jarak -kurang lebih- 100 meter lagi menuju Puncak Meru. Bisa dibayangkan kan, bagaimana sulitnya mendekati Puncak Meru, karena Conrad dan tim-nya yang profesional tersebut saja masih harus memakan waktu selama itu.

Apakah Conrad dan tim-nya berhasil mencapai Puncak Meru? Sayangnya menjelang senja di hari ketujuh belas itu, mereka belum bisa mencapai Puncak Meru. Akhirnya Conrad dan timnya memutuskan untuk menyudahi pendakian mereka. Alasannya adalah mereka memprediksi baru dapat mencapai Puncak Meru pada malam hari, dan itu artinya mereka harus bermalam di atas Puncak Meru. Hal tersebut sangat tidak masuk akal melihat jumlah logistik dan cuaca yang tidak cocok untuk bermalam di Puncak Meru. Jika dipaksakan maka akan membuat mereka semua mati konyol. Meskipun Conrad sangat sedih mengalami kegagalan yang kedua kalinya, tapi sebagai pemimpin Conrad menuruti saran dari Jimmy yang mengusulkan untuk menyerah di misi kali ini. Saat sampai di basecamp, keadaan mereka pun sudah sangat lemah yaitu terutama kaki mereka yang mengalami keadaan seperti campuran antara frost bite dan trench foot. Frost bite (radang dingin) adalah kondisi dimana jaringan tubuh membeku dan rusak disebabkan oleh paparan suhu yang rendah sehingga terlihat seperti akan membusuk. Sedangkan trench foot (kaki parit) adalah keadaan dimana kulit dan jaringan kaki rusak disebabkan oleh cuaca yang dingin, lembab, basah dan kotor sehingga terlihat seperti bonyok.

Lantas apakah mereka mengubur impian mereka? Ya, mereka hampir mengubur impian mereka untuk menjadi tim pertama yang mencapai Puncak Meru karena tidak lama muncul pendaki profesional lainnya yaitu Silvo Karo bersama teman-temannya ingin menjadi yang pertama mencapai Puncak Meru. Singkatnya Silvo meminta pertolongan kepada Conrad untuk berbagi ilmu dalam misi ke Puncak Meru tersebut. Conrad kemudian membagi hal-hal yang diketahuinya kepada Silvo. Alasan Conrad sederhana, yaitu jika memang Silvo berhasil, berarti puncak tersebut bukanlah milik mereka. Tapi tidak lama kemudian terdengar berita bahwa Silvo dan kawan-kawannya gagal dalam misi tersebut sehingga hasrat Conrad dan teman-temannya kembali muncul. Pada tahun 2011 mereka berencana untuk menuntaskan misi yang tertunda yaitu mencoba kembali mencapai Puncak Meru.

Apakah mereka berhasil? Ternyata ujian kembali menimpa tim ini. Kali ini menimpa Jimmy dan Renan. Jimmy dan Renan yang sedang bersama-sama mengerjakan proyek komersil di Gunung Jackson tersebut mengalami kecelakaan 6 bulan sebelum jadwal mereka mendaki kembali di Puncak Meru. Kecelakaan pertama menimpa Renan. Kecelakaan ini terhitung parah karena mematahkan beberapa tulang rusuk, tulang leher, dan membuat putus pembuluh darah tulang belakangnya. Akibatnya Renan harus menjalani perawatan intensif dan dokter awalnya memprediksi kemungkinan terburuk untuk Renan adalah dia tidak dapat berjalan kembali. Kemudian beberapa hari kemudian, Jimmy yang melanjutkan proyek komersil di Gunung Jackson tersebut juga mengalami kecelakaan yaitu dirinya terkena longsoran salju yang besar. Namun beruntung, Jimmy masih bisa selamat dan tidak terkubur hidup-hidup. Jimmy bisa selamat murni karena hal yang diluar prediksi umum, yaitu beberapa salju yang berasal dari bawah tubuhnya malah seperti mengangkatnya keluar dari timbunan longsoran salju yang sebelumnya sudah menutup habis tubuhnya. Kejadian ini diakui Jimmy telah mengubah dirinya menjadi lebih introspektif dalam menjalani hidup karena merasa seperti diberikan kesempatan kedua dalam menjalani hidup.

Sedangkan Renan yang masih dalam tahap pemulihan tersebut memohon kepada Conrad dan Jimmy untuk diikutsertakan kembali pada misi selanjutnya. Ujian kali ini kini tertuju kepada Conrad dan Jimmy karena mereka dihadapkan oleh permasalahan yang dilematis yaitu mengajak Renan dalam tim dengan resiko Renan sewaktu-waktu bisa terserang stroke yang disebabkan paparan udara dingin yang ekstrem pada pembuluh darah yang telah rusak atau memilih bermain aman dengan tidak mengajak Renan namun itu artinya merusak impian Renan. Membaca situasi yang ada, Renan berusaha membuktikan kepada dua rekannya dengan berlatih sungguh-sungguh di bawah pengawasan dokter pada masa pemulihan. Beruntungnya, kondisi Renan pulih dengan cepat sehingga dokter memutuskan bahwa Renan dapat ikut serta dalam tim.

Hari yang telah ditentukan pun tiba. Conrad, Jimmy, dan Renan memulai kembali petualangan profesional mereka untuk mencapai Puncak Meru. Namun sayangnya, pada hari kelima tersebut kondisi fisik Renan tiba-tiba melemah dan tidak bisa berkomunikasi meskipun Renan berusaha keras berkomunikasi. Conrad curiga jika Renan terkena stroke. Melihat keadaan Renan, tim kembali dihadapi oleh keadaan yang dilematis, apakah menyudahi misi ataukah melanjutkan perjalanan tanpa Renan. Apakah misi kali ini berhasil? Apakah Conrad harus menelan pil kegagalan untuk yang ketiga kalinya atas Puncak Meru? Apakah mereka bertiga dapat sukses menjadi tim pertama yang mencapai Puncak Meru? Yuk, silahkan ditonton aja gimana selanjutnya perjuangan fisik dan mental dari Conrad, Jimmy, dan Renan dalam menuntaskan misi tersebut πŸ™‚

Moral of the story yang gue dapet setelah menonton film dokumenter ini adalah Conrad tidak egois saat memilih untuk menyudahi misi ini pada tahun 2008 meskipun dia sangat sedih karena secara psikologis itu artinya dia telah dua kali menelan pil pahit kegagalan. Dan Conrad juga tidak egois ketika memutuskan untuk berbagi ilmu kepada Silvo dan timnya saat mereka berhasrat menjadi yang pertama mencapai Puncak Meru. Kemudian Conrad dan Jimmy yang memutuskan untuk mengikutsertakan Renan yang baru saja pulih dari kecelakaan, dengan pertimbangan tidak ingin mengubur impian Renan. Disini terlihat bagaimana solidaritas yang ada pada diri Conrad dan Jimmy. Lalu perilaku Jimmy yang memberikan kepercayaan dan dukungan kepada Conrad selaku leader saat Conrad yang baru mengenal Renan memutuskan untuk mengikutsertakan Renan sebagai anggota tim. Ini menunjukkan sikap dan perilaku Jimmy yang loyal terhadap leader. Secara keseluruhan, sikap dan perilaku pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Conrad, Jimmy, dan Renan dari awal hingga akhir film dokumenter ini sangat menginspirasi. Singkatnya, film ini cocok untuk dijadikan sebagai salah satu film yang menjadi trigger bagi semangat mengejar impian.

Dan hal lain yang gue suka dari film dokumenter ini adalah dimana orang-orang terdekat dari Conrad, Jimmy, dan Renan pun diberikan ruang untuk ikut berbicara di sini. Terlihat jelas pandangan orang-orang terdekat mereka yang awalnya kurang menyetujui aktifitas yang dilakukan oleh Conrad, Jimmy, dan Renan tapi kemudian memilih menerima mereka apa adanya karena kehangatan cinta yang selalu mereka bagi kepada keluarga. Kemudian keunikan dari film ini adalah Jimmy Chin sang anggota tim juga berperan sebagai pembuat film ini. Jadi kebayang kan, gimana sulitnya si Jimmy selain harus fokus pada penghematan tenaga saat pendakian juga harus bisa membuat film dokumenter yang bagus. Kerja kerasnya ini kemudian berbuah apresiasi yang tinggi yakni karyanya mendapat penghargaan di beberapa ajang festival film internasional seperti Sundance Film Festival, Shanghai International Film Festival, Amsterdam International Documentary Film Festival, dan lainnya.

Kira-kira kapan Backpacker Jakarta ngadaian trip ke Puncak Meru ya?..hehe..

47 thoughts on “MERU

  1. aduh, aku waktu nonton film everest aja deg2an deh.. jadi penasaran mau liat ini.
    baca tulisan kakak aja aku sedikit kebayang gimana tegangnya perjuangan mereka.

      1. Duh saya ikut deg-degan, sampai nahan nafas membayangkan perjuangan nanjak ke Meru. Jadi pengen nonton juga

  2. Dari dulu saya kalo nonton film yang bertema gunung selalu antusias. Saya nonton film Vertical Limits, Everest, dan Himalaya (Korea) itu dibuat geleng2 kepala, bahkan di nonton Himalaya saya terharu. Karena gigih banget mau mencapai puncak gunung.
    Saya penasaran banget nih sama film Meru. Bakal cari sih film ini

  3. Gila gue baca ini ikutan deg-degan kaaa.
    Asli penasaran abis sama endingnya.
    Nahhh klo bawa kapten tim macam bang Conrad ini asik ya ka.
    Hahahah

  4. Tentang Meru ini, banyak hal yang bisa diambil ketika mendaki gunung. Seperti pada paragraf ke-5 ” Jika dipaksakan maka akan membuat mereka semua mati konyol.”
    Bisa selamat setelah pendakian itu suatu anugerah, daripada memaksakan ke puncak gunung namun pulang tinggal nama.

  5. Awalnya sayapikir ini typo loh, nulisnya MERU untuk mengacu SEMERU ternyata, ada juga ya nama gunung MERU. Jadi benar2 penasaran sama filmnya

  6. Tidak tahu kenapa kalau membaca atau menonton kisah perjuangan para pendaki gunung gunung tertinggi , saya seperti ikut merasa lelah dan kedinginan.
    Banyak ya pelajaran yang bisa diambil dari film ini. Pendakian memang tidak selamanya berhasil mencapai puncak tapi bisa mengukur kemampuan diri adalah suatu pencapaian juga.

  7. Boleh banget nih jadi rekomendasi film2 pendakian.. pernah nonton everest dan vertical limits.. emang kalo kita udah di batas tuh nggak boleh maksain diri adalah salah satu dari moral story film2 begini..

      1. Saya pernah menonton film serupa, Into Thin Air dan Everest. Kalau dari ulasannya, saya tertarik untuk menonton Meru juga. Terima kasih kak untuk ulasan menariknya. Film dokumenter memang punya daya tarik tersendiri.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.