THE DAY WILL COME (DER KOMMER EN DAG)

Mau nonton kisah nyata tentang psikopat yang jadi pendidik ?

Abis nonton salah satu film yang diputar di event Europe on Screen 2018, yaitu The Day Will Come (Der Kommer En Dag) kayaknya sayang buat ngga di-posting, karena menurut gue -pribadi- film ini oke buat ditonton dan diinspirasikan dari kisah nyata. Film ini berasal dari Denmark yang dirilis pada tahun 2016 dan disutradarai oleh Jesper W. Nielsen. Seperti yang lainnya, film ini dijadwalin buat diputar di beberapa vennues,tapi gue nonton film ini saat diputar di Erasmus Huis pada tanggal 5 Mei 2018 tepat pukul 19.30 WIB.

 

Hal pertama yang menarik dari film ini buat gue adalah karena film ini diinspirasikan oleh kejadian nyata. Jadi maksudnya, nama-nama dalam film ini atau tokoh yang ada di dalam film ini adalah tokoh fiktif, namun peristiwa abusif yang pernah terjadi di salah satu panti adalah kejaadian nyata. Atau mudahnya, kurang lebih film ini kayak Film Titanic yang diinspirasikan oleh kejadian nyata. Sedangkan tokoh Jack dan Rose di dalam Film Titanic tersebut belum tentu ada.

 

Film ini berlatar kehidupan anak-anak panti asuhan yang dibuat khusus untuk anak laki-laki pada tahun 1960-an di Denmark. Pusat dari cerita di dalam film ini adalah tentang dua (2) orang kakak beradik yang menjadi penghuni panti asuhan dikarenakan faktor ekonomi. Keunikan dari film ini yaitu dimulai saat tokoh-tokoh utama tersebut masuk ke dalam lingkungan panti, gaya penceritaan di dalam film ini layaknya sudut pandang orang ketiga pada sebuah novel. Dimana orang ketiga tersebut ngga lain adalah seorang teman dari dua (2) orang tokoh utama di film ini. Teman tersebut adalah penghuni dari panti asuhan tersebut. Teman ini memutuskan untuk “menceritakan” kepada publik kisah tentang Erik (Albert Rudbeck Lindhardt) dan Elmer (Harald Kaiser Hermann) karena keberanian dan kebaikan dua orang kakak beradik ini dalam “mengungkap” kebusukan yang terjadi di dalam panti ini.

 

Kebusukan yang terjadi di dalam panti ini sangatlah ngga manusiawi dan bahkan ngga pernah terpikirkan sebelumnya di pikiran gue sebelum menonton film ini. Kebusukan ini yaitu tentang pelecehan fisik, mental, medis, dan seksual. Pelecehan fisik yang paling ngga masuk akal adalah bagaimana anak-anak panti yang seharusnya dilindungi, malah kerap kali dipukul ataupun ditampar sama kepala sekolah (sebutan di film ini untuk kepala dari pengelola panti ini) kalo mereka mengeluarkan pendapat sekecil apapun kepada kepala sekolah. Sedangkan pelecehan mental yang paling kejam adalah dimana kepala sekolah memberlakukan peraturan dimana penghuni panti yang dianggap melawan peraturannya boleh untuk dipukuli oleh semua anak panti, jika semua anak panti ingin bebas dari amarah kepala sekolah yang disebabkan oleh kelakuan si penghuni yang dianggapnya salah tersebut. Gue ngga habis pikir pas lihat scene ini, kok bisa-bisanya kepala sekolah jadi perintis budaya bullying. Lanjut ke pelecehan secara medis, yaitu terjadi saat kepala sekolah menolak untuk memberikan perawatan kesehatan yang terbaik buat Erik yang lagi koma. Dia menolah karena khawatir perilakunya yang abusif akan terbongkar oleh pihak luar. Gampang ditebak kan, kalau Erik bisa sampai koma begitu karena kelakuan si kepala sekolah yang mirip psikopat itu. Gue jadi kepikiran, gimana ceritanya kok orang kayak gitu bisa kepilih jadi tenaga pendidik. Nah, kalau untuk penyiksaan seksual sendiri, ternyata ini dilakukan oleh salah satu bawahan dari si kepala sekolah tanpa sepengetahuan siapapun di panti asuhan tersebut. Pria yang merupakan pelaku pelecehan seksual tersebut ternyata punya orientasi seksual yang menyimpang sehingga dia kerap mengincar bocah laki-laki penghuni panti di malam hari saat situasi udah sepi. Dan sayangnya, Elmer menjadi salah satu korban dari si predator seks ini.

 

Melihat banyaknyan kebusukan yang terjadi di dalam panti tersebut, pada akhirnya membuat salah satu tokoh guru antagonis di dalam film ini memutuskan untuk resign dari pekerjaannya. Namun saat resign, guru tersebut ngga tahu kalo di panti itu juga ada pelecehan medis dan seksual. Sedangkan Erik dan Elmer yang digambarkan sebagai bocah pemberani pun, tentunya pernah mencoba untuk kabur berkali-kali. Tapi sayangnya, selalu bisa digagalkan oleh pihak panti (baca: kepala sekolah). Hal ini jugalah yang kemudian membuat Elmer dan Erik akhirnya mau berkompromi kepada kepala sekolah untuk menjalankan strategi kooperatif. Namun sayangnya, hal ini ngga membuat kepala sekolah memberikan hak mereka berdua, sehingga tindakan paling ekstem pernah dilakukan oleh mereka berdua yang berakibat membuat kepala sekolah sangat berang. Saat ini terjadi, semua jalan keluar terlihat seperti stuck.

 

Apakah keadaan yang rusak ini bisa diperbaiki? Nah, supaya ngga penasaran, gue bakal kembali ngasih saran klasik alias gue menyarankan buat nonton sendiri filmnya karena sumpah film ini keren banget. Sorry, gue ngga bocorin ending-nya yah, biar ngga jadi spoiler..hehe.. Tapi tenang aja, percaya aja kalau segala sesuatu itu secara hukum alam pasti ada masanya, termasuk perlakuan zalim itu pasti ada masanya karena pasti akan muncul deus ex machina yang ngerapihin semuanya.

 

Selesai nonton film ini, gue takjub banget dengan akting para tokoh-tokoh sentral di film ini terutama untuk pemeran Erik dan Elmer. Karena usia mereka masih bocah banget  tapi akting mereka udah jempolan abis. Wah, gue jadi kepikirin itu si Erik sama Elmer udah mulai debut aktingnya dari umur berapa ya?..hehe. Gue juga suka sama akting si kepala sekolah yang diperanin sama Lars Mikkelsen. Sumpah, aktingnya sukses bikin gue benci sama karakter si kepala sekolah yang kejam di film ini.

 

Seperti salah satu teori di ilmu psikologi yang mengatakan kalau untuk membuat kesan tidak terlupakan untuk orang lain adalah dengan cara membuat kesan yang hebat di awal dan akhir perjumpaan, maka di film ini gue merasakan hal itu. Saat di awal gue terkesan dengan gaya tutur yang memakai sudut pandang orang ketiga dan di akhir film ini gue terkesan karena film ini memberikan keterangan bahwa panti asuhan abusif yang menjadi inspirasi untuk karya ini, saat ini sudah banyak melalukan perubahan ke arah yang positif dan menjadi panti asuhan yang baik. Salah satu progam yang saat ini diberikan oleh pihak panti asuhan tersebut adalah memberikan program pemulihan untuk mantan anggota panti asuhan yang sempat mengalami masa-masa abusif tersebut. Di dalam film, diceritakan bahwa nama panti abusif tersebut adalah Gudbjerg, namun di akhir film tersebut (dalam bentuk narasi tertulis) diinfokan bahwa nama panti yang sebenarnya yaitu bukan Gudbjerg tetapi Godheavn. Selesai film ini diputar, semua penonton tanpa dikomando langsung memberikan tepuk tangan meriah loh, karena memang berkesan banget sama film ini.hehe.

 

Akhir kata, gue mau ngucapin terima kasih sekali lagi buat Erasmus Huis dan event Europe on Screen 2018 atas partisipasinya yang udah memberikan film-film yang menghibur sekaligus cerdas buat penonton Indonesia dengan gratis pula.hehe. Semoga kedepannya, acara ini akan semakin seksi di mata masyarakat Indonesia dan bisa diadakan di banyak kota di Indonesia.

 

Psikopat dimana-mana, kayaknya butuh radar khusus psikopat nih..hehe.

 

IG : @estalinafebiola

Leave a Reply