TEHRAN TABOO

Suka film yang kontroversial? Silahkan lahap Tehran Taboo.

 

Salah satu film yang gue tonton di event Europe on Screen 2018 dan sayang rasanya buat ngga di-posting yaitu Tehran Taboo (2017). Film ini dibuat oleh sutradara kelahiran Iran yaitu Ali Soozandeh, namun telah menetap lama di Jerman sejak 1990-an. Pantes ya di buku yang jadi guide tentang acara ini, film ini diinfokan sebagai film yang berasal dari negara Jerman..hehe. Gue nonton film ini pada tanggal 12 Mei 2018 di Institut Francais d’Indonesie (M.H. Thamrin) tepat pukul 17.00 WIB. Jadi film ini adalah film terakhir yang gue tonton di event ini. Pertama kali nonton film ini, mungkin karena ngga terbiasa, gue ngga nyaman ngeliat teknik rotoscoping yang dipakai pada film ini. Tapi ternyata perasaan ngga nyaman ini kalah dengan tema dan plot menggigit yang dibawa sama film ini. Di sepuluh (10) menit pertama, film ini sukses bikin gue yang bisa dibilang bukan movie-buff fanatik merasa gerah ngga keruan..hehe.

 

Film ini bercerita tentang tiga (3) permasalahan yang menimpa muda mudi Iran dengan latar belakang sistem hukum negara yang dilandasi oleh agama tertentu namun dipraktekkan secara tidak adil. Secara tidak adil karena agama laksana topeng, namun pada praktiknya lebih kental dengan aroma patriarkis dan korupsi moral sehingga melahirkan beberapa permasalahan sosial.  Menurut gue pribadi, permasalahan yang kuat tampil di dalam film ini yaitu keadilan gender untuk wanita. Ada beberapa permasalahan sosial di dalam film ini yang menohok dengan tajam, tapi isu gender untuk wanita-lah yang rasanya paling dominan menguar.

 

Seperti yang udah gue sebut sebelumnya, ada tiga (3) kasus di dalam film ini. Kasus yang menurut gue paling kejam adalah kasus dimana digambarkan seorang wanita baik-baik dengan status menikah yaitu Pari (Elmira Rafizadeh), terpaksa harus menggadaikan kehormatan demi memperoleh kebebasannya kembali sebagai seorang manusia. Dan parahnya, yang menyebabkan dia terpaksa melakukan hal tersebut adalah tokoh yang digambarkan menjadi simbol dan pelaksana nilai-nilai religius di tengah-tengah masyarakat. Atau singkatnya, jika dilukiskan dengan bahasa yang lebih frontal yaitu sang hakim digambarkan memanfaatkan kondisi Pari yang ingin bercerai dari suaminya yang pemadat dan narapidana tersebut dengan menjadikan Pari gundiknya dengan iming-iming surat persetujuan cerai dari suami Pari tersebut. Pari terpaksa menyanggupi tawaran sang hakim karena dirinya tidak sanggup memaksa suaminya yang memiliki tabiat buruk tersebut untuk memberikan kebebasan bagi dirinya melalui surat persetujuan cerai.

 

Kasus kedua yang erat dengan aroma kedilan gender yaitu digambarkan melalui seorang tokoh wanita yang juga seorang ibu rumah tangga yang baik yaitu Sara (Zahra Amir Ebrahimi), yang akan diceraikan oleh suaminya hanya karena dia berbohong dengan mengatakan kepada suaminya bahwa dia berselingkuh hingga berzina dengan pria lain. Hal ini dilakukannya hanya karena emosi saat tengah bertengkar dengan suaminya. Namun demikian, sebenarnya hal tersebut tidaklah dilakukannya. Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan perilaku si suami itu diluar rumah, dimana pria ini dengan jelas digambarkan tidak asing dengan wanita penghibur. Namun begitu mendengar hal tersebut, suaminya langsung mengambil keputusan bulat untuk menceraikannya dengan tidak mempertimbangkan keadaan Sara yang tengah hamil.

 

Kasus ketiga yang diceritakan di dalam film ini ternyata erat kaitannya dengan fenomena kawin kontrak. Digambarkan dimana seorang tokoh wanita yaitu Donya (Negar Mona Alizadeh) mengadakan perjanjian untuk menikah dengan seorang pria dengan syarat dan garansi tertentu. Garansi yang diberikan oleh Donya adalah keperawanan yang dimilikinya. Sedangkan syarat yang diajukannya adalah Donya menerima sejumlah uang dalam jumlah yang besar dari pria yang akan menikahinya tersebut sebagai imbalan atas keperawanannya itu. Sayangnya, karena one night stand yang tidak disengaja dilakukannya, membuat dia tidak dapat memenuhi komitmen yang seharusnya dipenuhinya. Masalah semakin mencapai puncak, saat Donya meminta pertolongan kepada pria yang menjadi partner one night stand-nya tersebut yaitu Babak (Arash Marandi) untuk membiayai operasi keperawanannya. Merasa tidak sanggup mengatasi permasalahan ini, Babak pun akhirnya kabur ke luar negeri meninggalkan Donya di dalam keterpurukan.

 

Nah, gimana cara ketiga tokoh wanita di dalam film ini menyelesaikan permasalahannya? Dengan jawaban basi, gue akan bilang lebih baik untuk nonton sendiri film ini karena dijamin bukan cuma dapeting ending-nya film ini, tapi juga gregetnya..hehe. Intinya, menurut gue film ini sangat menarik dan bisa dijadiin referensi buat kalo lagi nyari-nyari amunisi buat nge-kill waktu luang..hehe. Pesan moral yang didapet dari film ini, kalo menurut gue pribadi adalah kalo keadilan itu adalah hak setiap orang. Tapi perlu gue tekankan disini, gue pribadi pun bukan pengamat profesional khusus untuk kajian politik di Timur Tengah yah, jadi apakah situasi di Iran untuk permasalahan keadilan gender sudah sekritis itukah, jujur gue ngga tahu pasti dan gue ngga berani nge-judge kalo di Iran sudah sebobrok itu. Jadi semua redaksi kata-kata yang gue tulis ini, pure adalah umpan balik atas apa yang tersaji di dalam film Tehran Taboo. Intinya, sekali lagi gue mau bilang kalo film ini bagus karena menghibur dan sekaligus bisa jadi pancingan buat yang tadinya ngga tertarik sama kajian politik di Timur Tengah, bisa aja kan akhirnya jadi tertarik. Kalo pun situasi politik di Iran memang katakanlah seperti itu, berarti ini adalah bentuk kritik yang membangun untuk pemerintahan Iran sendiri. Apalagi kritik ini dibuat oleh Soozandeh, pria kelahiran Iran yang sudah lama menetap di Jerman namun tetap memiliki perhatian khusus terhadap tanah leluhurnya. So sweet..hehe. Dan ngga tahu kenapa, akting Elias (Bilal Yasar) di film ini bikin gue jatuh hati. Menurut gue pribadi, Elias sukses membawakan perannya di film ini. Melihat karakternya di film ini, gue merasa Elias adalah sebuah simbol dari komedi satir karena karakternya ini gloomy, tapi begitu dia mencoba melempar humor hasilnya memang lucu sih bikin penonton ketawa tapi sekaligus tertohok karena langsung sadar bahwa ada situasi sosial aneh yang sedang disindir.

 

Akhir kata, gue mau ngucapin thanks buat event ini, yang udah ngasih pilihan hiburan yang kece dan gratis..hehe. Semoga tahun depan, filmnya tambah banyak, konsep ceritanya makin kreatif, dan kota-kota yang jadi penyelenggara di Indonesia juga makin beragam. Amin.

 

Sensasi apa yang terasa setelah konsumsi Tehran Taboo? Semoga ngga perlu di USG ya..hehe.

 

IG : @estalinafebiola

4 thoughts on “TEHRAN TABOO

  1. Baru mampir di blog non.. Bagus jg ulasan nya… Perlu dicoba untuk ditonton sepertinya .. Semangat kk blog nya 😁

Leave a Reply