HISTORY’S FUTURE

Film tentang pencarian jati diri, ada yang tertarik ?

Film lainnya yang gue tonton di event Europe on Screen 2018 yaitu Film History’s Future. Ini film pertama yang gue tonton di event ini. Film ini berasal dari Belanda dan disutradarai oleh Fiona Tan. Pada saat event ini berlangsung, film ini dijadwalkan bakal diputar di beberapa venues, tapi gue menonton film ini saat diputar di Erasmus Huis pada tanggal 5 Mei 2018 tepat pukul 17:00 WIB.

 

Untuk film History’s Future, izinin gue buat ngasih analogi sebagai aliran surealisme kalo aja film ini boleh diibaratin sebagai lukisan. Gimana ngga, gue pribadi saat nonton film ini berasa seakan dipaksa lompat-lompat diantara ruang dan waktu lewat penggambaran si tokoh utama yaitu Missing Person (Mark O’Halloran) yang berusaha menemukan kembali identitas dirinya yang hilang karena sakit tersebut dengan cara pergi dari rumah meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk melanglang buana ke berbagai negara tanpa ada penjelasan logis tentang dimana dan bagaimana Missing Person tersebut bisa melakukan hal-hal tersebut. Simpelnya, menurut gue -pribadi-, ngga ada penjelasan yang logis tentang dimana dia selama “berpetualang” itu tinggal, bagaimana dia bisa memperoleh uang, dan lainnya. Okelah, memang pernah ada scene yang menampilkan dia berpakaian lusuh dan terlihat memungut makanan di jalan karena sudah sangat lapar, tapi itupun hanya satu scene. Coba bandingkan dengan berapa banyak adegan dimana dia tampil rapi dan necis. Bahkan sempat sampai bisa merayu dan punya affair dengan seorang wanita cantik. Dan apakah pada akhirnya Missing Person si tokoh utama berhasil nemuin kembali identitas dirinya yang hilang? Seperti biasa, gue ngga mau bocorin karena kalau sampe bocor, posting-an ini positif bakal jadi spoiler. Jadi, gue sangat menyarankan buat nonton film ini sendiri sampai habis supaya tahu ending-nya..hehe. Oia, di film ini, si tokoh utama karena hilang ingatan dan ngga  inget bahkan untuk namanya sendiri, jadinya di sepanjang film ini dia disebut-sebut sebagai Missing Person atau MP.

 

Setelah menonton film ini, pikiran yang terlintas di kepala gue adalah kenapa buat menemukan kembali identitas dirinya tersebut si tokoh utama justru “dibuat” kelayapan begitu sama skenario. Kenapa ngga dibuat lebih “normal” dengan cara si tokoh utama dibawa kembali ke keluarga besar buat me-recall ingatannya yang hilang itu. Maaf, mungkin gue sok tahu ya, tapi hipotesis awal yang muncul di benak gue adalah apa mungkin karena budaya Barat adalah nuclear family sehingga saat ingin menemukan kembali identitas dirinya, mereka lebih baik menstimulasi diri dengan lingkungan luar dibanding lingkungan dalam yang menjadi asal muasal dirinya bisa ada di bumi –baca: keluarga besar- dengan alasan mungkin tidak mau merepotkan keluarga besar. Hmm, gue ngga tahu pastilah ya, alesan dibalik jalan ceritanya dibuat begitu, yang penting pesan moral yang gue dapetin dari film ini adalah untuk menemukan diri kita yang sejati alangkah lebih baik jika kita melihat ke dalam diri kita sendiri karena jawaban apapun sudah tersedia di dalam diri kita sendiri. Justru jika melihat keluar maka mungkin hanya kegelisahan aja yang kita temuin.

 

Nah, karena film yang masuk ke dalam list event Europe on Screen sudah pasti oke, gue mau cerita tentang kelebihan film ini versi gue..hehe. Kelebihannya yaitu lokasi pengambilan gambar yang sangat menawan karena diambil di beberapa kota di Eropa. Jadi buat yang emang pengen banget jalan-jalan ke Eropa, lihat visualisasi di film ini pasti bakal bikin baper banget..hehe.

 

Terakhir, gue mau bilang makasih banget buat Erasmus Huis dan event Europe on Screen 2018, karena udah memberikan hiburan yang asyik, berkualitas, dan gratis buat masyarakat Indonesia. Dan semoga kedepannya, animo masyarakat akan lebih besar lagi untuk event ini.

 

Gimana, udah ketemu, kenalan, dan intim sama jati diri lo sendiri?..hehe.

 

IG: @estalinafebiola

Leave a Reply